SMK Negeri 1 Tapin Selatan melaksanakan simulasi Ulangan Harian menggunakan Platform Moodle
M. Sidik Widiatmoko Al Wahab, S.Kom | 26 Februari 2024 | Dibaca 191 kali |

Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan khususnya smk khususnya terkait Informasi dan Teknologi serta penerapan teknologi dalam pembelajaran. SMK Negeri 1 Tapin Selatan mulai menerapkan e-learning terbaru berbasis moodle. 

Selangkah Lebih Dekat dengan Moodle

Moodle adalah kepanjangan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment merupakan software e-learning berbasis website yang dapat digunakan untuk keperluan belajar mengajar dengan prinsip social construction pedagogy

E-Learning Moodle, LMS Gratis dengan Fitur Mumpuni
Baca juga : Apa itu Metode Blended Learning?

Moodle juga merupakan sebuah platform pembelajaran yang dirancang untuk menyediakan pendidik, pelajar, dan administrator dengan satu sistem yang aman, dan terintegrasi. Layaknya Google Classroom, Moodle menyediakan ruang kelas digital bagi siswa untuk mengakses materi atau segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Sebagaimana yang telah tertera dalam website resminya, Moodle adalah Learning Management System (LMS) atau Course Management System (CMS) yang dapat membantu seseorang, kelompok, sekolah, institusi, bisnis, atau bahkan dewan pendidikan dalam mengelola kursus (courses) bagi siapapun dalam proses belajar mengajar.

Awal mula sejarah Moodle, aplikasi ini dikembangkan oleh Martin Dougiamas, seorang lulusan ilmu komputer dan pendidikan, yang ingin membuat sebuah platform pembelajaran yang bersifat open source atau dapat diakses dan digunakan secara gratis.

Saat ini, Moodle dapat dijalankan pada komputer dengan sistem operasi apapun, baik Windows, Linux, MacOS, Unix, Netware ataupun lainnya, yang mendukung PHP dan database.

Prinsip Social Construction Pedagogy Moodle

Seperti yang sudah diutarakan di awal, Moodle didesain dan dikembangkan berdasarkan prinsip social construction pedagogy dengan empat konsep utama, yaitu constructivism, constructionism, social constructivism, dan connected and separate.

1. Constructivism

Berdasarkan konsep constructivism ini, masyarakat dapat secara aktif membangun pengetahuan baru sebagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan kata lain, segala hal yang kamu lihat, baca, dengar, rasakan atau kamu sentuh, dapat menjadi pengetahuan baru untukmu.

2. Constructionism

Konsep ini mengandung arti bahwa belajar itu akan sangat efektif jika membuat sesuatu yang dialami oleh orang lain (experience). Dengan kata lain, kamu akan lebih memahami suatu hal dengan menjelaskannya ke orang lain menggunakan kata-katamu sendiri.

3. Social Constructivism

Memperluas constructivism ke ranah sosial ke dalam sebuah kelompok, kemudian membangun pengetahuan (knowledge) baru untuk satu sama lain, membangun suatu budaya membagi artefak dengan berbagi arti (meaning).

4. Connected and Separate

Connected and separate terdiri dari tiga perilaku, diantaranya perilaku terpisah (separate behavior), terhubung (connected), dan membangun (constructed). Perilaku terpisah adalah ketika seseorang mempertahankan ide masing-masing guna mencari celah dalam ide lawan. Kemudian perilaku terhubung lebih menekankan pendekatan empati dengan menerima secara subjektif, mencoba mendengar dan mengerti dari sudut pandang orang lain. Sedangkan perilaku membangun adalah sesorang yang memilih diantara dua perilaku sebelumnya secara tepat untuk situasi saat ini. 

Berdasarkan prinsip tersebut, moodle menawarkan alat (tools) yang berpusat pada pendidik dan lingkungan belajar yang kolaboratif dengan memadukan mengajar dan belajar.

 

Kelebihan Moodle

Eksistensi Moodle semakin meningkat saat pandemi, saat kegiatan pembelajaran tatap muka dialihkan dengan dengan pembejalaran jarak jauh. Moodle yang selaras dengan perkembangan teknologi menjadi platform pilihan karena sifatnya yang open source sehingga bebas untuk digunakan dan dimodifikasi sesuai kebutuhan pengguna. 

Selain itu, dilansir dari laman iconews, Moodle telah teruji di 238 negara dan digunakan oleh 197 juta pengguna. Bahkan di Indonesia sendiri, terdapatcatat sebanyak 4.466 situs pembelajaran yang dibangun menggunakan Moodle. 

Kelebihan dan fitur yang ditawarkan Moodle pun sangat beragam dan berbeda dengan aplikasi sejenis sehingga pengguna dapat memilih fitur mana saja yang cocok untuk diterapkan pada e-learning mereka. Sobat eCampuz apakah familiar juga dengan program SPADA dari Kemdikbud? Nah, program pembelajaran jarak jauh ini juga memanfaatkan Moodle sebagai platformnya. Kapan-kapan kita bahas lebih detil ya mengenai SPADA ini ????

Berikut beberapa kelebihan yang ditawarkan oleh Moodle :

1. Tersedia lebih dari 120 pilihan bahasa

Moodle tersedia lebih dari 120 pilihan bahasa sehingga pengguna dapat dengan mudah membangun situs Moodlenya karena tersedia juga bersamaan dengan banyaknya sumber (resources), dukungan (support), dan diskusi komunitas yang tersedia dalam berbagai bahasa.

2. Sangat fleksibel dan mudah dimodifikasi

Karena sifatnya yang open source, Moodle dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan masing-masing sistem. Selain itu, Moodle menyediakan berbagai macam plugin dan add-ons yang dapat digunakan secara gratis.

3. Keamanan sistem terjamin

Moodle berkomitmen menjaga keamanan data sehingga ketentuan user privacy, security controls akan selalu diupdate secara berkala untuk mencegah akses yang dilarang, kehilangan data, dan penyalahgunaan.

4. Dapat diakses kapanpun, dimanapun, dan melalui perangkat apapun

Moodle merupakan platform berbasis website, sehingga dapat diakses melalui perangkat apapun, termasuk gawai (responsif). 

5. Tersedia banyak resource

Terdapat beragam fitur, content, course, hingga plugin yang dapat kamu gunakan.

6. Tersedia Manajemen Pengguna

Manajemen pengguna pada Moodle terdiri dari guru, murid, dan administrator.

 

Fitur Aplikasi Moodle

Sebagian besar fitur Moodle hampir sama dengan Google Classroom, yaitu siswa yang terdaftar pada kelas tertentu dapat mendownload materi, melihat partisipan lain yang mengambil kelas yang sama, sedangkan guru dapat memberi nilai pada penugasan yang telah diberikan. Selain itu, di Google Classroom juga terdapat fitur kalender yang dapat mengingatkan siswa terhadap tenggat waktu pengumpulan tugas dan lainnya. 

Kegiatan ini diawali dengan simulasi ulangan harian oleh Bapak Johan Kenedi pada mata pelajaran matematika.

Sebelumnya SMK Negeri 1 Tapin Selatan juga melaksanakan ujian akhir semester dengan platform berbeda yaitu dengan Pijar dari produk telkom dan berjalan lancar.  Moodle ini digunakan sebagai simulasi dari Server bantuan dari BTIKP Provinsi kalimantan selatan.Semoga ke depannya SMK Negeri 1 Tapin Selatan menjadi percontohan bagi sekolah lain dalam pembelajaran  berbasis IT Di Kalimantan Selatan.


BAGIKAN :



Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin